Departemen Seni Islam di Museum Louvre

Departemen Seni Islam yang sudah lama ditutup telah dibuka kembali pada tanggal 22 September 2012 di lokasinya yang baru, yakni di halaman Visconti, Museum Louvre. Sekitar 3000 karya akan dipamerkan, sebagai saksi sejarah selama 1.300 tahun, yang mencakup berbagai wilayah di tiga benua, mulai dari Spanyol hingga Asia Tenggara.


Departemen Terbaru di Museum Louvre

Pada tahun 2003, Museum Louvre membuka departemennya yang kedelapan, yakni Departemen Seni Islam. Departemen ini mencerminkan kekayaan dan keragaman kreasi seni dunia Islam, dengan lebih dari 14000 koleksi dan dilengkapi 3500 karya mengagumkan yang berasal dari museum seni dekoratif, yang banyak diantaranya belum pernah ditampilkan.

Pada tahun 1893 Museum Louvre mendirikan seksi seni Islam dan membuka ruang pertama yang khusus menampilkan koleksi bernafaskan Islam, di tengah departemen karya seni. Jumlah koleksi tersebut bertambah pesat di bawah dua orang kurator, yakni Gaston Migeon dan Emile Molinier. Di tahun 1912, peninggalan isteri bangsawan Baron Delort de Gléon, yang berasal dari koleksi suaminya, memperkaya seksi ini dengan benda-benda bernilai tinggi, hingga kemudian dibuka ruang “Delort de Gléon” pada tahun 1922, di paviliun Horloge.

JPEG - 30.1 kb
© Ministère des Affaires étrangères/Bruno Chapiron


Pada tahun 1932, Departemen Seni Asia didirikan dan koleksi Islam dimasukkan ke dalamnya. Seusai Perang Dunia tahun 1945, sementara karya-karya dari Timur Jauh dipindahkan ke Museum Guimet, seksi Islam ditempatkan di Departemen Budaya Timur Kuno. Karya-karya dipamerkan di ruang Kapel paviliun Horloge, kemudian dipajang di dua ruangan yang berada di bagian ujung ruang pamer Budaya Timur Kuno. Di tahun 1993, dengan didirikannya Grand Louvre dan pindahnya Kementerian Keuangan dari sayap Richelieu, koleksi seni tersebut pun dipindahkan ke ruang koleksi museum yang memiliki luas 1000 m².

Kini, cakrawala baru membentang bagi departemen yang dibuka pada tahun 2012 ini di lokasi barunya seluas 3000 m², yang diapit fasad-fasad di halaman Visconti yang telah mengalami restorasi. Proyek arsitek Rudy Ricciotti dan Mario Bellini merupakan proyek terbesar di Museum Louvre, sejak pembangunan Grand Louvre. Sebentar lagi pengunjung akan dapat mengagumi atap yang di atasnya dilapisi “sayap capung”, berupa selubung kaca berwarna keemasan yang dianyam dari lembaran logam halus bergelombang.

GIF

Pengumpulan koleksi

Sejarah pengumpulan koleksi ini menyangkut sejarah besar sekaligus selera seni. Benda-benda dari kebudayaan Islam pertama yang tiba di Louvre, sejak didirikannya museum pusat seni, pasca Revolusi tahun 1793, berasal dari koleksi kerajaan. Di antara benda-benda tersebut, terdapat pasu bernilai tinggi terbuat dari logam berornamen, yang dibuat di Suriah dari abad XIV, dan juga cawan batu giok dari jaman Ottoman milik Louis XIV. Perlu juga ditambahkan karya-karya dari biara kerajaan Saint Denis. Dari akhir dekade abad XIX hingga Perang Dunia I, Paris menjadi kota penting pengumpulan koleksi bernafaskan seni Islam. Museum Louvre mendapat karya-karya terindah koleksinya berkat sumbangan dari banyak pecintanya dan para kolektor pribadi yang telah menyerahkan benda-benda milik mereka. Sikap murah hati orang-orang pribadi dilengkapi pula melalui pembelian beberapa benda bergengsi. Usai Perang Dunia I, penambahan koleksi mengalami perlambatan tetapi Museum masih saja menerima sumbangan besar. Sejak didirikannya departemen baru pada tahun 2003, percepatan terjadi kembali dan pada tahun 2009 museum menerima hibah lebih dari 100 karya seni.

JPEG - 58.5 kb
© Ministère des Affaires étrangères/Bruno Chapiron

Koleksi yang ditampilkan di Museum Louvre

Koleksi ruangan-ruangan baru Departemen Seni Islam memungkinkan suatu penataan yang menggambarkan hasil karya seni Islam, sejak awal munculnya agama tersebut di abad VII hingga awal abad XIX: seni dekoratif, berbagai benda sehari-hari, miniatur, tekstil dan permadani, elemen-elemen arsitektur, dll. Benturan dengan berbagai budaya dan pertukaran tanpa henti antar-wilayah Islam ditonjolkan. Keseluruhan benda yang dipamerkan pun akan memudahkan bukan hanya pemahaman akan homogenitas seni Islam, yang membuatnya segera dikenali sedemikian rupa, tetapi juga akan kreativitas luar biasa, yang diperlihatkan selama berabad-abad. Kebijakan pembelian yang berkesinambungan dan banyaknya benda-benda seni yang diserahkan oleh Museum Seni Dekoratif memungkinkan dilengkapinya koleksi, khususnya dari beberapa daerah yang hingga saat ini masih kurang terwakili seperti Maghreb ataupun India Mughal. Hal ini, memungkinkan tersajinya gambaran seni yang lebih lengkap, yang berasal dari kerajaan-kerajaan besar Islam terakhir.

GIF

Sumber : louvre.fr
Informasi lebih lanjut : http://www.louvre.fr/en/department-islamic-art

© Ministère des Affaires étrangères/Bruno Chapiron
© Ministère des Affaires étrangères/Bruno Chapiron
© Ministère des Affaires étrangères/Bruno Chapiron
© Ministère des Affaires étrangères/Bruno Chapiron
© Ministère des Affaires étrangères/Bruno Chapiron
© Ministère des Affaires étrangères/Bruno Chapiron
© Ministère des Affaires étrangères/Bruno Chapiron
© Ministère des Affaires étrangères/Bruno Chapiron

Diterbitkan pada 04/10/2012

Kembali ke atas