Konferensi Pers untuk Serge Atlaoui, tanggal 17 April 2015 [fr]

Pernyataan Duta Besar Perancis untuk Indonesia, Ibu Corinne Breuzé, pada konferensi Pers tanggal 17 April 2015, perihal situasi Bapak Serge Atlaoui


1) Pemerintah Perancis dengan sangat prihatin telah mendengar berita tentang eksekusi mati dua orang tenaga kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi. Perancis berdiri di samping pemerintah dan masyarakat Indonesia dalam situasi sulit ini. Perancis menentang hukuman mati di mana saja dan dalam keadaan apa pun.

JPEG
2) Anda sekalian telah diundang ke konferensi pers pagi ini pada kesempatan kunjungan Ibu Sabine Atlaoui ke Jakarta dan agar kami membagi kabar terbaru tentang situasi hukum Bapak Serge Atlaoui.

Seperti anda semua ketahui, Duta Besar Republik Indonesia di Paris telah dipanggil pada tanggal 9 April yang lalu oleh Menteri Luar Negeri Perancis, Bapak Laurent Fabius, yang telah menyampaikan sekali lagi perhatiannya yang sangat besar terhadap penghormatan hak-hak Bapak Atlaoui.

JPEG
3) Adapun sikap kami :

a. Saya ingin mengingatkan kembali konteks kasus yang menimpa Bapak Serge Atlaoui, yang mungkin masih belum diketahui oleh sebagian di antara saudara-saudara semua : sebanyak 17 orang telah ditangkap, 13 orang diadili dan divonis bersalah, 9 di antaranya divonis hukuman mati, termasuk Bapak Serge Atlaoui, dalam kasus pabrik pembuatan narkoba yang disamar sebagai pabrik pembuatan bahan akrilik. Jadi, dalam kasus ini, Serge Atlaoui bukan satu-satunya yang dihukum mati.

Pernyataan yang kerap kali dikutip oleh media bahwa Serge Atlaoui ditangkap dengan membawa 138 kg shabu, 290 kg ketamin dan 316 drum prekursor adalah berita bohong atau menyesatkan. Semua barang bukti tersebut disita dari pabrik bersamaan dengan penangkapan 17 orang. Sungguh keterlaluan menjadikan Serge Atlaoui sebagai satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas semua barang bukti, Bapak Serge Atlaoui tidak pernah menangani bahan narkoba atau bahan kimia apapun.

b. Yang membuat kami terkejut atau shock, adalah bahwa nama Serge Atlaoui satu-satunya dalam kasus ini yang masuk dalam daftar terpidana mati, yang sering disebut akan segera dieksekusi mati. Terpidana mati lain dalam kasus yang sama, termasuk kepala sindikat dan aktor-aktor utama lainnya, tidak terancam untuk segera dieksekusi.

c. Saya juga menitikberatkan bahwa Serge Atlaoui divonis bersalah sebagai ahli kimia, walaupun dia hanya seorang teknisi (tukang las) yang perannya minim dalam kasus ini. Semua kesaksian baik dari terdakwa lain maupun pihak kepolisian membenarkan hal itu.

Dalam permohonan grasi yang diajukan kepada Presiden RI, Bapak Serge Atlaoui tidak pernah mengakui perannya sebagai ahli kimia atau penyelundup narkoba. Dia hanya mengakui tangung jawabnya sebagai teknisi pesuruh yang tidak pantas menerima hukum mati.

d. Oleh karena itu, Serge Atlaoui telah mengajukan upaya hukum Peninjauan Kembali (PK) yang pertama ke Mahkamah Agung. Kami yakin bahwa Mahkamah Agung akan memeriksa secara seksama berkas PK dan akan mengeluarkan putusan adil dan independen yang akan meletakkan peran dan tanggung jawab Serge Atlaoui dalam perkara ini pada tempat yang sebenarnya.

e. Permohonan PK ini sangat mendasar pada susbstansinya dan tidak merupakan upaya untuk mengulur waktu. Itu sebabnya kami merasa heran mendengar berbagai komentar yang mengatakan bahwa Mahkamah Agung akan memutus dengan cepat dan bahwa upaya hukum tersebut pasti sia-sia.

Untuk melengkapi pernyataan ini, saya ingin menyampaikan bahwa Pemerintah Perancis bersedia membantu Indonesia untuk memberantas penyelundupan narkoba, termasuk melalui penawaran kerja sama. Pada dasarnya, kami memang berpendapat bahwa hukuman mati bukan jawaban yang sesuai, dalam kondisi apapun. Itu sebabnya, Perancis secara aktif dan tanpa lelah terus-menerus berjuang demi penerapan moratorium hukuman mati di seluruh dunia.

JPEG

Siaran Pers Kementerian Luar Negeri Perancis

Situasi Bapak Serge Atlaoui (Paris, 9 April 2015)

Bapak Laurent Fabius, Menteri Luar Negeri dan Pembangunan Internasional Republik Perancis, telah diterima oleh Duta Besar Indonesia untuk Perancis, pada tanggal 9 April lalu. Dalam kesempatan tersebut Menlu Perancis menyampaikan keprihatinannya yang amat mendalam mengenai nasib warganya, Serge Atlaoui yang dijatuhi hukuman mati oleh peradilan Indonesia.

Bapak Laurent Fabius mengingatkan bahwa Perancis sangat menghormati kedaulatan Indonesia sekaligus menekankan bahwa Perancis terus menerus menentang hukuman mati dan sangat menghormati hak untuk membela diri.
Dalam konteks banding yang diajukan oleh Bapak Atlaoui, yang baru saja dilimpahkan kepada Mahkamah Agung, Bapak Menlu meminta agar pihak berwenang Indonesia mempelajari berkas warganya dengan seksama, tanpa tergesa-gesa, sesuai dengan hukum yang berlaku dan dengan komitmen internasional Indonesia.

Perancis akan terus mengikuti dengan penuh perhatian perkembangan kasus Bapak Atlaoui.

JPEG

Diterbitkan pada 11/05/2015

Kembali ke atas