Lawatan Bapak Laurent Fabius, Menteri Luar Negeri Perancis, ke Indonesia dan Vietnam (1 – 5 Agustus 2013) [fr]

Bapak Laurent Fabius baru-baru ini melakukan lawatan ke Indonesia dan Vietnam, kunjungan resmi pertama seorang Menteri Luar Negeri Perancis ke kedua negara tersebut, sejak hampir dua puluh tahun. Bapak Fabius juga melakukan kunjungan pertama seorang menteri luar negeri Perancis ke kantor pusat Sekretariat ASEAN, di Jakarta.

JPEG

Kunjungan tersebut bertujuan untuk menunjukkan keinginan Perancis untuk menghembuskan angin segar bagi hubungan antara Perancis dan Asia Tenggara. Dalam pidatonya tentang kebijakan Perancis di Asia yang disampaikan di kantor Sekretariat ASEAN, Bapak Fabius menekankan bahwa pengembangan hubungan Perancis dengan Asia Tenggara harus berada pada tingkat yang sama dengan hubungan kemitraan Perancis dengan negara-negara Asia lainnya seperti Cina, India dan Jepang.

Di Indonesia, pembicaraan menteri luar negeri dengan para pemangku kebijakan menunjukkan komitmen bersama untuk mewujudkan kemitraan strategis bilateral yang ditandatangani pada tahun 2011 secara nyata. Penguatan hubungan ekonomi menjadi prioritas. Indonesia mewakili 40% PDB ASEAN, namun hanya merupakan mitra dagang Perancis yang keempat di kawasan tersebut. Bapak Fabius, dengan didampingi berberapa pemimpin perusahaan Perancis, menyampaikan dukungannya terhadap penanaman modal Perancis di Indonesia yang masuk dalam kerangka hubungan jangka panjang demi terwujudnya pembangunan berkelanjutan. Bersama para pejabat Indonesia, beliau membahas bidang-bidang tertentu yang dapat diwujudkan dalam jangka pendek, terutama di bidang kedirgantaraan. Telah diputuskan untuk mengembangkan kerjasama untuk memerangi perubahan iklim, guna mempersiapkan konferensi COP21 tahun 2015, dan untuk fokus pada pelatihan akademis dan profesional (telah ditandatangani dua kesepakatan terkait pelatihan pegawai negeri).

JPEG

Di Vietnam, lawatan Bapak Fabius dimanfaatkan untuk menyampaikan konsep kemitraan strategis Perancis yang akan dijalin oleh kedua negara. Menlu menekankan kualitas hubungan politik, padatnya pertukaran budaya dan kerjasama universitas yang dinamis, yang tercermin dari kehadiran sekitar 7000 orang mahasiswa Vietnam di Perancis. Namun demikian Bapak Fabius mencatat kelemahan dan ketidakimbangan pertukaran ekonomi, yang tidak mencapai potensi maupun ambisi para pemimpin kedua negara. Menteri dan pejabat-pejabat yang ditemuinya, di antaranya Perdana Menteri Vietnam telah memutuskan untuk mewujudkan kemitraan strategis dengan kemajuan-kemajuan nyata jangka pendek di bidang-bidang yang menjadi prioritas seperti infrastruktur, pembangunan berkelanjutan daerah perkotaan, kedirgantaraan, pertahanan, energi dan keuangan.

Kedua kunjungan tersebut telah memperkuat kehadiran mutlak Perancis di Asia Tenggara.

Diterbitkan pada 07/08/2013

Kembali ke atas