Peluncuran ‘Pekan Diplomasi Iklim’ di Indonesia (12 – 18 September 2016) [fr]

Selasa 13 September lalu, Duta Besar Perancis, Ibu Corinne Breuzé, dengan didampingi Duta Besar Uni Eropa, Bapak Vincent Guérend, membuka ‘Pekan Diplomasi Iklim’, sebuah prakarsa bersama yang dipromosikan oleh Uni Eropa dan negara-negara anggota di seluruh dunia, guna meningkatkan kesadaran masyarakat akan tantangan penanggulangan perubahan iklim.


JPEG
Didukung oleh Indonesian Youth Diplomacy (IYD), terselenggara sebuah diskusi di auditorium Institut Perancis di Indonesia (IFI), yang diawali dengan penayangan sebuah film dokumenter berjudul ‘Demain’ (Tomorrow karya Cyril Dyon dan Mélanie Laurent) yang menampilkan sejumlah prakarsa amat konkret yang dilaksanakan di seluruh dunia, sebagai bagian dari upaya menanggulangi perubahan iklim.

JPEG
Selain diikuti oleh orang Duta Besar Perancis dan Uni Eropa , diskusi ini dihadiri pula oleh Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Ibu Siti Nurbaya Bakar, serta Menteri Penasihat Kedutaan Besar Maroko di Indonesia, Bapak Zakaria Rifki. Sebagaimana telah kita ketahui, Maroko terpilih menggantikan Perancis, sebagai pemimpin Konferensi Para Pihak (COP) Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Perubahan Iklim berikutnya.

JPEG
JPEG
Diskusi yang berlangsung di aula IFI tersebut menjadi ajang untuk mengingatkan kembali ambisi-ambisi yang termaktub dalam kerangkan kesepakatan Paris tanggal 12 Desember 2015 (termasuk tujuan membatasi kenaikan suhu global pada 2°C dibandingkan dengan suhu pada era pra-industri), pentingnya meratifikasi Kesepakatan Paris sesegera mungkin oleh sebanyak mungkin negara, dan partisipasi Indonesia dalam perang melawan perubahan iklim.

JPEG
GIF
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang film ‘Demain’

Sinopsis : Dan bagaimana jika memperlihatkan solusi atau menyampaikan kisah yang membangkitkan optimisme merupakan cara terbaik untuk mengatasi krisis ekologi, ekonomi sosial yang dihadapi oleh negara-negara kita ? Menyusul penerbitan sebuah kajian yang menyatakan bahwa sebagian umat manusia akan punah pada tahun 2100, Cyril Dion dan Mélanie Laurent bersama tim berjumlah empat orang pergi mengunjungi sepuluh negara untuk memahami hal-hal apa saja yang dapat menyebabkan bencana tersebut terjadi, dan yang terpenting, upaya-upauya apa yang dapat dilakukan untuk menghindarinya. Di sepanjang perjalanan, mereka bertemu dengan para pelopor yang memprakarsai pembaharuan di bidang pertanian, energi, ekonomi, demokrasi dan pendidikan. Dengan menggabungkan seluruh inisiatif positif dan konkret yang sudah berjalan tersebut, mereka mulai melihat seperti bagaimana keadaan dunia di masa depan…

Diterbitkan pada 22/09/2016

Kembali ke atas