Penghargaan bagi (Alm) Joesoef Isak

Dengan penuh duka cita Kedutaan besar Perancis di Indonesia mendapat kabar mengenai wafatnya Joesoef Isak, pada tanggal 15 Agustus 2009, di usianya yang ke-81 tahun. Wartawan dan editor Joesoef Isak memperjuangkan kebebasan berpendapat di sepanjang hayatnya.

Segera setelah proklamasi kemerdekaan, intelektual muda yang berkomitmen terhadap kaum nasionalis Indonesia dan Soekarno tersebut bekerja di koran-koran nasional besar pertama seperti Berita Indonesia dan Merdeka. Pada tahun 1959 Joesoef Isak terpilih menjadi ketua Persatuan Wartawan Indonesia.

Setelah peristiwa G-30 S pada tahun 1965, Joesoef ditangkap beberapa kali dan kemudian dipenjara, tanpa melalui proses pengadilan, dari tahun 1967 s.d. 1977.

Begitu dibebaskan, Joesoef mendirikan penerbit Hasta Mitra yang akan menjadi penerbit pertama yang mencetak karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Seperti sebagian besar karya-karya berikutnya dari pujangga Indonesia tersebut, dua buku pertama yang diterbitkan, kemudian dilarang beredar. Di tahun 1982, lagi-lagi Joesoef Isak dijebloskan ke dalam penjara selama bebarapa bulan. Sejak tahun 1998, penerbit Hasta Mitra kembali menerbitkan karya-karya Pramoedya dan mencurahkan perhatiannya pada upaya untuk mengingat kembali peristiwa sejarah masa lalu agar tidak terulang di masa mendatang, dengan mengajukan serangkaian kesaksian tentang peristiwa tahun 1965.

Perancis memberikan penghormatannya atas keberanian dan pengorbanan Joesoef Isak dalam memperjuangkan kebebasan berpendapat dengan menganugerahinya penghargaan Chevalier des Arts et des Lettres, pada tanggal 21 September 2006.

JPEG

Pidato Bapak Joesoef Isak, pada tanggal 21 September 2006, pada malam penganugerahan penghargaan Chevalier des Arts et des Lettres.

JPEG

Diterbitkan pada 01/09/2009

Kembali ke atas