Pidato Bapak Fabius di Sekretariat ASEAN (Jakarta, 2 Agustus 2013)

Pidato Bapak Fabius, Menteri Luar Negeri Perancis, tentang kebijakan Perancis di Asia,
Sekretariat ASEAN di Jakarta, 2 Agustus 2013


GIF

Yang Terhormat Bapak Sekretaris Jenderal
Yang Terhormat Ibu dan Bapak Duta Besar
Hadirin dan Hadirat,

Saya amat senang bertemu dengan Anda sekalian di Kantor Pusat ASEAN. Saya kira ini adalah saat pertama kalinya seorang anggota kabinet Perancis berkunjung ke tempat ini yang melambangkan Asia yang damai dan makmur. Saya ingin berada di antara Anda hari ini, untuk menandai betapa pentingnya ASEAN dan negara-negara anggotanya bagi Perancis.

* *

Asia Tenggara adalah wilayah dunia yang telah punya hubungan historis dengan Perancis sejak zaman dahulu kala. Kontak pertama terjadi pada abad ke-16, dengan para pelaut Perancis, tepatnya orang Normandia, suatu keterangan penting bagi saya, karena saya seorang wakil rakyat yang terpilih dari daerah Normandia. Para pelaut ini berlabuh di pesisir Sumatera : Pierre Caunay dari Honfleur pada tahun 1527, kemudian Parmentier bersaudara pada tahun 1529. Setelah itu, di bawah pemerintahan Raja Louis XIV-lah hubungan resmi dimulai, dengan sejumlah pertukaran kunjungan delegasi resmi, dari kedutaan Siam di kerajaan Louis XIV dan kedutaan Perancis di istana Ayutthaya, yang berganti-ganti sepanjang tahun 1680-an. Pada waktu itu, Kedutaan Siam memberi kesan mendalam, hingga menginspirasi pujangga Perancis, Charles Dufresnoy, untuk berkarya. Sementara itu, Charles Dufresnoy sendiri menjadi sumber inspirasi bagi Montesquieu, dalam karyanya yang berjudul Surat Persia (les Lettres persanes). Kedutaan Siam meninggalkan kesan yang begitu mendalam, sewaktu pendaratannya di kota Brest, sehingga, sampai hari ini, jalan utama di kota tersebut menggunakan nama rue de Siam.

Sejak itu, hubungan manusia menjadi kenyataan. Pertemuan antara Perancis dan Asia Tenggara tak luput dari konflik. Semua orang mengetahui derita yang ditimbulkan oleh zaman kolonial. Saya tidak melupakannya, namun saya ingin mengingat hubungan kemanusiaan, budaya, dan keterikatan batin yang terjalin di antara kita. Tiga negara anggota ASEAN, Kamboja, Laos, dan Vietnam yang akan saya kunjungi besok, merupakan negara anggota Frankofoni dan negara yang keempat, yakni Thailand, menjadi pengamat di organisasi tersebut. Masyarakat dari berbagai negara anggota ASEAN yang menetap di Perancis berjumlah banyak dan dapat membaur dengan sangat baik, di antaranya terdapat tokoh-tokoh terkenal, saya ambil contoh Anggun penyanyi asal Indonesia, atau beberapa sineas, sejumlah pengusaha, dan dokter.

Saya harus mengakui bahwa pertalian tersebut tercermin dalam kehidupan sehari-hari, melalui makanan misalnya : ‘nem’ (lumpia dari Vietnam) yang kini sudah menjadi bagian dari warisan Perancis ; seperti halnya roti yang sudah masuk dalam budaya Vietnam. Saya tambahkan, bagi yang tertarik pada seni dan kesusastraan, ketika pujangga besar Perancis Antonin Artaud merintis kembali teater Perancis modern, ia terinspirasi dari seni pertunjukan Jawa, Bali dan Khmer.

* *

Selain hubungan antar-manusia tersebut, kita punya visi dunia yang konvergen yang juga mendekatkan Perancis dan Eropa di satu pihak, dan ASEAN di pihak lain. Seperti Eropa, ASEAN merupakan perwujudan sebuah rencana yang berhasil membangun suatu zona damai, kerjasama, dan kemakmuran. Seperti Eropa setelah keruntuhan Uni Soviet, ASEAN memainkan peran stabilisator yang menentukan, dengan menawarkan prospek masa depan yang lebih baik, melalui integrasi regional, ke negara-negara Indocina lama dan Myanmar yang selama beberapa dekade terpecah belah oleh konflik.

Anda telah melalui jalan Anda sendiri, namun saya tahu, pengalaman Uni Eropa dapat menjadi sumber inspirasi bagi negara-negara Asia Tenggara, bahkan jika Anda menjalani jalan Anda sendiri. Sebaliknya, kami melihat motif harapan dalam cara Anda menghadapi krisis Asia di akhir tahun 90-an. Saya teringat, banyak pengamat menilai secara tergesa-gesa pada saat itu, bahwa riwayat ASEAN sudah “tamat”. Anda mengatasi ujian tersebut dan Anda telah melalui jalan integrasi, dengan diimplementasikannya sebuah Piagam pada tahun 2008, dan diciptakannya suatu “masyarakat” politik, ekonomi, dan budaya per tahun 2015. Dengan cara yang sama, UE yang telah mengalami krisis tengah memulihkan dirinya. Jalan keluar dari resesi sudah di depan mata, meskipun masalah belum terselesaikan semua. Kami berhasil untuk bersatu mengatasi krisis dan saat ini menggarap sebuah rancangan Uni Eropa yang lebih terintegrasi lagi. Saya yakin, seperti ASEAN 15 tahun lalu dalam konteks yang berbeda, UE akan dapat keluar dengan lebih solid, dari cobaan ini.

Aspek lain yang sama dari visi dunia kita tertuang dalam komitmen kita bersama terhadap multipolaritas. Dunia pernah terbagi menjadi dua kutub, dengan dominasi Amerika Serikat dan Uni Soviet. Kemudian, selama satu periode singkat, dunia berubah menjadi unipolar dengan dominasi Amerika Serikat. Kita masing-masing berharap agar di masa mendatang dunia memiliki banyak kutub, dengan multipolaritas yang teratur. Untuk saat ini, menurut hemat saya, dunia berada dalam kondisi zero-polar. Itu lah sebabnya Perserikatan Bangsa-Bangsa lumpuh dan kita tidak dapat menyelesaikan konflik-konflik besar seperti misalnya konflik Suriah yang sedang terjadi saat ini.

Jika ingin keluar dari dunia yang zeropolar ini, kita tidak mengharapkan hubungan bipolar terbentuk kembali, dalam bentuk G2 antara Amerika Serikat dan Cina. Konon Amerika Serikat maupun Cina sendiri tak menginginkan hal tersebut. Bagi masyarakat Eropa, bagi negara-negara Asia Tenggara, hal ini dapat berarti hilangnya otonomi strategis dan bahkan mungkin menghadapi skenario terburuk : kewajiban untuk memilih salah satu pihak.

Sebenarnya, yang mendekatkan kita, ASEAN, Eropa dan Perancis, adalah keinginan membangun dunia multipolar yang nyata dan teratur yang kita inginkan. Dan di dalamnya, UE di satu sisi, dan ASEAN di sisi lain, akan memainkan peranan stabilisator. ASEAN berpenduduk 600 juta jiwa, artinya seperenam penduduk dunia, dengan pertumbuhan ekonomi yang dinamis dan luar biasa. UE memiliki penduduk 500 juta jiwa dan merupakan kekuatan ekonomi utama di dunia. Secara terpisah, kedua kutub itu sudah amat berpengaruh. Namun jika bersatu, kita akan memiliki kekuatan yang menentukan !

* *

Bapak Sekertaris Jenderal, Hadirin dan Hadirat yang saya muliakan

Ada banyak pembicaraan tentang ‘poros’ Amerika menuju Asia. Saya tidak tahu apakah istilah ini tepat. Yang pasti, Perancis pun berkomitmen terhadap sebuah ‘poros’. Bukan karena ikut-ikutan mode, tetapi karena Perancis ingin hadir di tempat mana masa depan dunia dibangun. Memang sudah barang tentu, Asia Pasifik akan berada di jantung abad XXI. Dan juga karena Perancis sendiri menjadi bagian dari kawasan Asia-Oseania, terlihat dari sejarahnya, dari fakta bahwa sejuta orang Perancis sekurang-kurangnya berasal dari Asia, dan dari wilayahnya di Pasifik yang didiami oleh setengah juta warga Perancis.

‘Poros’ Perancis ini bukan militer, untuk bagian terbesarnya, seperti mungkin poros Amerika, meskipun Perancis hadir di kawasan itu. Kami memiliki pasukan yang ditempatkan di wilayah kami di Pasifik, yang secara aktif memberi kontribusi bagi stabilitas kawasan seperti yang diakui oleh semua pihak. Kami turut andil dalam upaya internasional di Afghanistan dan kami telah menjalin kerjasama-kerjasama penting di bidang pertahanan dengan negara-negara besar di kawasan, terutama dengan para mitra kami di ASEAN.

‘Poros’ kami lebih condong ke diplomasi. Pemerintah baru Perancis menjadikan pengembangan hubungan dengan seluruh Asia suatu prioritas. Hal ini tercermin terutama dalam empat kunjungan ke kawasan tersebut oleh Presiden Perancis François Hollande, sejak beliau terpilih sebagai presiden : ke Laos untuk menghadiri KTT ASEM, lalu India, Cina dan Jepang. Kami telah memasukan dalam daftar kami sebuah kunjungan ke Indonesia yang indah ini, yang saya harap akan dilaksanakan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Itikad tersebut menyangkut seluruh Asia dan tidak sebatas dialog dengan raksasa-raksasa kawasan, yakni Cina dan India, seperti pernah terjadi sebelumnya. Kemitraan strategis kami dengan kedua raksasa tersebut tentunya sangat penting dan saya akan membahasnya sejenak.

Mengingat PDBnya yang meningkat pesat, mengingat bahwa negara tersebut merupakan anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan negara kunci bagi penyelesaian krisis-krisis internasional serta pencarian jawaban atas tantangan-tantangan global, Cina merupakan mitra yang mutlak bagi Perancis. Oleh karena itulah Presiden Perancis, sebagai kepala negara Barat pertama yang diterima oleh pemerintah baru Cina pada bulan April lalu, menunjukkan pentingnya pendalaman kemitraan strategis Perancis – Cina, di segala bidang. Sedangkan saya, setelah dipilih menduduki jabatan yang saya jalani sejak setahun yang lalu, kunjungan ke sahabat kami Cina pada tahun ini akan menjadi kunjungan keempat saya.

Dengan India, negara demokrasi terbesar di dunia, hubungan kami istimewa berkat tingkat kepercayaan yang melandasinya dan berkat tingkat ambisinya. Kedua negara kami telah menjalankan kemitraan strategis yang sangat erat di bidang pertahanan, pemberantasan teroris, energi nuklir untuk kepentingan sipil, dan angkasa luar. Keinginan politik yang kuat untuk membawa hubungan tersebut lebih jauh telah ditegaskan oleh India maupun Perancis dalam kesempatan kunjungan Presiden Perancis, bulan Februari lalu.

Kami berambisi mempererat hubungan kami dengan kedua negara raksasa tersebut dan sejalan dengan itu mengembangkan hubungan kami dengan seluruh kawasan. Saya terpikir khususnya tentang Jepang, mitra bersejarah kami. Saat kunjungan Presiden Perancis di bulan Juni lalu, kami telah bersepakat untuk menjalankan strategi istimewa, dengan mengadopsi roadmap berjangka lima tahun. Namun saya juga terpikir tentang Republik Korea yang dinamisme ekonomi, budaya dan diplomasinya mengesankan. Saya terpikir pula, meskipun tak terlintas secara spontan, tentang Mongolia, yang lebih jauh lagi, tempat yang sebentar lagi akan saya kunjungi. Dan akhirnya, tentu saja, saya terpikir terutama tentang kawasan ASEAN dan negara-negara anggotanya..

Saya menyadari bahwa di masa lalu, Perancis tidak cukup hadir di Asia Tenggara. Dari sudut pandang itu, fakta bahwa saya menjadi menteri luar negeri Perancis pertama yang datang ke Indonesia sejak 17 tahun yang lalu adalah buktinya. Kini, keadaan telah berubah. Sepanjang tahun ini, berbagai pertukaran tingkat tinggi telah terjadi dengan seluruh negara ASEAN. Kunjungan Presiden Perancis ke Vientiane merupakan pertanda prioritas tersebut. Sama halnya dengan Perdana Menteri Perancis yang telah melakukan tiga lawatan ke lima negara yang berbeda di ASEAN, sejak beliau menerima mandat. Beberapa hari lalu, beliau ada di Malaysia. Ada keinginan politik dari Perancis untuk segera melakukan percepatan hubungan dengan ASEAN dan negara-negara anggotanya.

Dalam ASEAN, Indonesia yang mewakili 40% penduduk dan PDB ASEAN, yang merupakan negara kekuatan ekonomi baru dan negara demokrasi yang besar, tentu saja merupakan mitra utama. Saya merasa senang dengan komitmen Indonesia yang terus meningkat dan konstruktif di kancah regional, tetapi juga terus menguat di percaturan internasional. Indonesia merupakan kontributor penting bagi operasi-operasi penjaga perdamaian, terutama bersama UNIFIL di Libanon, Ia merupakan anggota G20 yang aktif, dan merupakan negara yang berkomitmen kuat terhadap perang melawan perubahan iklim. Indonesia adalah negara muslim yang berpengaruh besar sebagai negara Islam moderat dan menampilkan dirinya mampu memikul tanggungjawabnya di kancah internasional. Indonesia adalah mitra mutlak bagi Perancis. Hubungan antara kedua negara kita masih belum mencapai potensi maksimalnya. Kita telah menandatangani suatu kemitraan strategis pada tahun 2011, sekarang kita harus mengimplementasikannya di segala bidang. Saya menjadikannya sebuah prioritas. Selain itu, karena tadi pagi saya baru saja meletakkan batu pertama gedung kedutaan Perancis yang baru di Jakarta, maka secara pribadi saya berkomitmen bahwa tahun depan saya wajib datang kembali untuk meresmikannya.

Poros diplomasi tersebut juga sekaligus poros ekonomi. Kawasan Asia menerima seperlima dari seluruh perusahaan Perancis yang didirikan di luar negeri, dan menjadi kawasan mitra dagang nomor dua di dunia bagi Perancis. Bagian dunia ini telah menjadi tempat terjadinya peningkatan lebih dari setengah pertumbuhan ekspor kami pada beberapa tahun belakangan ini. Bagian dunia ini akan menjadi tempat terkonsentrasinya 50% pertumbuhan dunia untuk periode tahun 2012 – 2017. Oleh sebab itu, sudah barang tentu wilayah ini akan menduduki posisi yang semakin penting dalam strategi pengembangan perusahaan-perusahaan Perancis. Dalam hal ini saya mencatat besarnya volume perdagangan dengan Asia Tenggara, dengan 1500 perusahaan Perancis yang telah membuka cabang di kawasan tersebut : nilai ekspor Perancis ke ASEAN setara dengan nilai ekspornya ke Cina, namun neraca perdagangan dengan ASEAN bisa dikatakan seimbang sementara neraca perdagangan dengan Cina mengalami defisit sebesar 27 miliar Euro. Di antara 47 negara prioritas ekspor Perancis, 6 di antaranya terdapat di Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam. Integrasi ekonomi yang meningkat di kawasan ini, prospek perjanjian perdagangan bebas antara Uni Eropa dan negara-negara utama di Asia, proses internasionalisasi mata uang Yuan, semua ini berkontribusi pada penguatan dinamika ekonomi Perancis dan Eropa ke arah Asia.

Saya telah berbicara tentang poros diplomasi dan poros ekonomi, namun poros tersebut juga memiliki sisi kemanusiaan. Warga Perancis mungkin sebelumnya tidak pernah menunjukkan minat sebesar sekarang ini ke Asia. Masyarakat Perancis di Asia perkembangannya paling pesat di dunia. Ke-120 ribu warga Perancis yang kini hidup di Asia mewakili 7% populasi Perancis di luar negeri. Di Cina saja, saat ini terdapat 50 ribu warga Perancis. Jumlah mahasiswa Perancis yang menimba ilmu di universitas-universitas Anda berlipat ganda. Satu hal yang mungkin kurang diketahui di Perancis, bahwa generasi muda kami menggandrungi budaya Asia, Jepang, Korea. Pengajaran bahasa Cina dan bahasa-bahasa Asia lainnya berkembang pesat. Bahasa Jepang menjadi bahasa asing kedua yang paling banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis setelah bahasa Inggris dan film-film Thailand maupun Filipina semakin banyak diminati. Adapun yang terkait dengan Indonesia, negara yang sangat indah ini menjadi impian tidak hanya kaum muda tetapi juga warga kami yang sudah berumur. Mahasiswa Asia, utamanya Cina dan juga Korea atau Vietnam, kini jumlahnya mencapai sekitar 50 ribuan orang, dan memberi kontribusi berharga bagi universitas-universitas yang menerima mereka. Dan pagi ini kami membahas hal tersebut dengan Duta Besar Perancis, kami menerima sekitar 500-an mahasiswa Indonesia setiap tahunnya melalui program beasiswa. Wisman dari Asia ke Perancis mengalami lonjakan hebat, dengan 4 juta pengunjung setiap tahunnya, dan banyak juga warga Perancis yang datang ke belahan bumi Asia ini ! Kami pun berharap jumlah ini terus meningkat.

* *

Bapak Sekretaris Jenderal Yang Mulia, Hadirin dan Hadirat,

Demikianlah beberapa patah kata mengenai masa lalu, situasi masa kini, dan keinginan. Sekarang kita harus maju bersama-sama dan memperkuat kemitraan antara Perancis, Eropa, serta ASEAN. Tentu saja, Bapak Sekretaris Jenderal, kita telah membicarakan hal ini sebelum pertemuan ini, dan saya mengusulkan kepada Bapak agar kita dapat memusatkan perhatian pada setidaknya dua orientasi besar.

1 – Poros pertama, adalah mewujudkan secara nyata visi bersama kita tentang sebuah dunia yang damai dan kerjasama. Ada beberapa konflik yang memecah wilayah-wilayah tertentu di dunia, yakni Timur Tengah, Afrika, Asia Selatan. Terdapat ketegangan di wilayah Anda, meskipun situasinya tak segenting situasi sebelumnya. Ketegangan tersebut menjadi keprihatinan kami pula, karena ASEAN berada di jantung lintasan pelayaran kami yang vital bagi kepentingan ekonomi dan strategis kami. Oleh karena itulah, Menteri Pertahanan Perancis, Bapak Le Drian, ikut serta dalam dua sesi terakhir Dialog Shangri-La. Perancis tidak berhak untuk memutuskan dalam sengketa wilayah negara-negara di kawasan ini, namun kami dapat membantu mencari solusi damai, sesuai dengan hukum Internasional. Selain itu, Perancis mendukung penyusunan Tata Perilaku di Laut Cina Selatan oleh ASEAN dan Cina, seperti yang sudah diatur dalam Deklarasi Phnom Pehn pada tahun 2002.

Sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, Perancis memiliki tanggung jawab khusus di bidang ini. Perancis memikulnya jika diperlukan, sesuai dengan hukum internasional. Dalam semangat ini lah, di benua lain, kami turun tangan di Mali pada awal tahun ini, atas permintaan pemerintah negara tersebut dan atas izin PBB, guna membantunya menghadapi ancaman teroris dan menegakkan kembali integritas wilayahnya. Kami juga melibatkan diri dalam pemberantasan proliferasi senjata perusak massal, isu bertegangan tinggi di semenanjung Korea, dan dalam usaha pengamanan jalur penyediaan logistik yang penting bagi Asia melalui komitmen kita untuk berperang aktif melawan perompakan laut di Samudera Hindia. Kami juga siap untuk memperkuat kerjasama kami dengan negara-negara Asia yang berkontribusi dalam operasi-operasi perdamaian PBB. Terkait dengan hal ini, saya menyambut baik keputusan Vietnam untuk mengirimkan pasukan-pasukannya dalam misi “helm biru”, mulai tahun depan. Anda semua dapat mengandalkan dukungan kami.

Saya mengusulkan untuk bekerja sama dengan mengambil inspirasi dari apa yang pernah kita lakukan di masa lalu, misalnya untuk mengembalikan perdamaian ke Indocina. Merupakan satu kebanggaan besar bagi Perancis dapat turut memimpin konferensi Paris bersama Indonesia, yang berhasil mencapai kesepakatan-kesepakatan bulan Oktober 1991 yang menegakkan kembali perdamaian di Kamboja. Di tahun 2007, Perancis menjadi negara Eropa pertama yang tergabung dalam Traktat Persahabatan dan Kerjasama di Asia Tenggara. Saya berharap di masa mendatang Perancis dapat terus memegang peran sebagai pelopor dalam pelaksanaan kerjasama demi perdamaian dan keamanan dengan ASEAN. Dalam semangat inilah Perancis menyampaikan keinginannya untuk berpartisipasi dalam ADMM + (ASEAN Defense Ministers Meeting).

2- Kontribusi kami yang pertama adalah melangkah bersama-sama menuju dunia yang damai dan kerjasama. Poros kedua kami adalah menjawab bersama-sama permasalahan global dan membangun sebuah regulasi baru dunia di bidang politik, ekonomi, sosial dan lingkungan hidup. Upaya pembatasan emisi gas rumah kaca, pada khususnya, merupakan keharusan jika kita ingin memerangi perubahan iklim. Semua mengetahuinya, Asia mengeluarkan sepertiga emisi gas rumah kaca dunia, dan mungkin akan meningkat menjadi 45% pada tahun 2030. Ini merupakan wilayah yang secara dramatis amat rentan terhadap dampak perubahan iklim, Anda semua menyadarinya. Memahaminya, dan saya menyambut baik komitmen visioner Presiden Yudhoyono terkait dengan hal itu. Perancis mengusulkan agar Paris menjadi tuan rumah, apa yang kita sebut dengan COP 21 pada tahun 2015, yakni KTT dunia tentang perubahan Iklim. Saya telah menyampaikan kepada Sekretaris Jenderal ASEAN bahwa saya bermaksud bekerja bahu membahu dengan ASEAN untuk menyukseskan acara tersebut.

Meskipun menghadapi kesulitan-kesulitan ekonomi, Perancis tetap mempertahankan besarnya jumlah bantuan negara bagi pembangunan sebagai kontribusinya demi mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan ini, antara lain melalui Badan Perancis untuk Pembangunan (AFD), yang misi prioritasnya di Asia adalah membantu ‘pertumbuhan hijau’ dan memerangi perubahan iklim secara efektif.

Tantangan-tantangan pembangunan berkelanjutan tersebut merupakan kesempatan untuk mengembangkan hubungan ekonomi antara Perancis dan seluruh negara ASEAN di masa kini maupun di masa mendatang : sektor angkutan umum, wacana ‘kota berkelanjutan’, bidang energi, ketahanan pangan atau teknologi baru. Di semua bidang ini yang menjadi prioritas di kawasan Anda, perusahaan-perusahaan Perancis memiliki keahlian amat luar biasa yang siap mereka sediakan demi menopang proyek-proyek Anda.

Guna mengembankan hubungan-hubungan ini, berbagai tindakan perlu diupayakan, di satu sisi tentu saja oleh pihak perusahaan-perusahaan Perancis, di sisi lain oleh pihak pemerintah-pemerintah yang harus mempermudah akses ke pasar-pasar, menegakkan perlindungan kekayaan intelektual, dan meningkatkan kewaspadaan agar perdagangan bebas dapat dijalankan, sesuai dengan prinsip resiprositas. Atas dasar ini saya berharap kita akan segera mencapai kesepakatan-kesepakatan ambisius, seperti yang sudah kami capai dengan Singapura

* *

Bapak Sekretaris Jenderal, Hadirin dan Hadirat,

Pada tahun 1684, delegasi Kedutaan Besar Siam pertama di Perancis diterima di Galeri Kaca Istana Versailles oleh Raja Louis XIV. Kemegahan penyambutan ini menjadi cerminan dari pesan selamat datang.

Lebih dari tiga abad kemudian dan saya akui dengan cara yang lebih sederhana, pesan selamat datang ini, ingin saya sampaikan kepada Anda semua, atas nama Perancis. Saya pun ingin mengajak Anda untuk mengikuti jejak para duta besar dari negeri Siam tersebut dengan berkunjung ke Perancis. Dan terlebih dahulu, Anda, Bapak Sekretaris Jenderal, yang saya undang dengan suka cita.

Pesan ini saya tujukan kepada para penanam modal. Investasi yang berasal dari ASEAN di Perancis masih terlalu kecil, meski ada segelintir pengecualian yang pada umumnya berhasil meraih sukses besar. Berinvestasi di Perancis berarti menanam modal di negara yang ekonominya berada di posisi kelima di dunia, tujuan nomor empat investasi asing, dengan 20 ribu perusahaan yang dimiliki investor asing. Dengan demikian, berarti Anda mempunyai akses ke seluruh zona euro dan di luar itu, ke pasar-pasar yang dinamis di Afrika dan Timur Tengah. Penanaman modal Asia disambut baik di Perancis karena dapat menciptakan kekayaan dan lapangan pekerjaan bagi kedua belah pihak. Jadi jangan ragu !

Saya juga menyampaikan pesan kepada para peneliti dan mahasiswa. Mahasiswa Asia Tenggara masih belum banyak di Perancis meskipun jumlah mereka meningkat pesat. Kami sedang berupaya mempermudah prosedur agar setiap orang dapat datang ke Perancis, memperbaiki penyambutan, mengembangkan pendidikan dalam bahasa Inggris bagi siapa yang mungkin saja belum menguasai bahasa Perancis. Saya berpesan kepada mereka, jangan ragu untuk datang ke Perancis.

Kemudian, ini merupakan pesan kepada seluruh warga yang ingin berkunjung ke Perancis atau kepada warga Perancis yang ingin datang ke sini. Anda semua diterima dengan baik. Kami melakukan upaya untuk menyederhanakan, mempercepat proses pengurusan visa, mengembangkan pariwisata yang disesuaikan dengan harapan para wisatawan Asia, dan menjamin keamanan mereka sepenuhnya, karena kami tahu itu amat penting.

Semboyan Indonesia yang juga dapat menjadi semboyan ASEAN adalah “Bhinneka Tunggal Ika”. Mungkin Anda sudah tahu semboyan ini mirip dengan semboyan Uni Eropa “Unie dans la diversité” yang artinya ‘manunggal dalam keberagaman’. Keinginan untuk menggabungkan kesatuan dan keberagaman, merupakan salah satu dasar persahabatan kita dan kemitraan yang sangat solid antara Perancis, Eropa dan ASEAN.

Oleh karena itu, dengan suka cita saya mengucapkan dalam bahasa Perancis dan Inggris, sayangnya saya tidak tahu bagaimana mengatakannya dalam bahasa setempat : Vive l’Indonésie ! Vive la France ! dan tentu saja Bapak Sekretaris Jenderal, Vive ASEAN !.

Diterbitkan pada 21/08/2013

Kembali ke atas