Robotika Perancis berkembang pesat

Penyelenggaraan sebuah pameran robot di Museum Seni dan Kerajinan serta penyerahan dua penghargaan bagi kalangan industri Perancis merupakan rangkaian peristiwa yang menempatkan robotika, bidang yang sampai kini masih kurang dikenal di Perancis, menjadi sorotan di bulan november ini.

Meskipun krisis ekonomi saat ini tengah melanda, pasar robot bantu di dunia yang kini tengah naik daun mengalami pertumbuhan eksponensial. Eropa mencatat omset 5 miliar dolar, yang berarti 33% dari pangsa pasar global. Omset Perancis mencapai 600 juta dolar atau mencakup 12% pasar Eropa.

Menurut perhitungan Komite Prospeksi dan Antisipasi Mutasi Ekonomi Antar-Kementerian (PIPAME) yang bertugas menganalisis perkembangan para pelaku utama dan sektor ekonomi yang sedang bermutasi, pangsa pasar robot sebagai mesin pembantu kalangan perorangan dan profesional diperkirakan akan berlipat ganda antara tahun 2010 dan 2015. Di tahun 2015 diperkirakan pasar global akan mencapai omset 8 miliar dolar, untuk robotika perorangan, dan 18 miliar dolar untuk robotika kalangan profesional.

PNGDua nama besar Perancis baru saja menerima penghargaan bagi karya inovatif mereka masing-masing. Bertin Nahum, pemimpin perusahaan Medtech yang di antaranya memasarkan robot bantu pembedahan ‘Rosa’ (RObotized Stereotactic Assistant), berada di urutan keempat, berdasarkan pemeringkatan yang dibuat majalah ilmiah Kanada Discovery Series. Sementara para perancang Nao, robot humanoid (berbentuk manusia) otonom yang dapat diprogram hasil karya perusahaan Perancis Adebaran Robotics, menerima salah satu penghargaan dari Hall of Fame universitas Pittsburg.

Apabila Amerika Serikat dan Jepang memimpin di pasaran, maka keahlian Perancis berhasil merebut tempatnya, dimulai oleh Medtech, perusahaan dari kota Montpellier yang didirikan sepuluh tahun lalu dan dipimpin oleh Bertin Nahum, warga Perancis asal Benin. Perusahaan yang memiliki sekitar dua puluhan pegawai ini ahli dalam merancang robot bantu pembedahan.

Sejak kuliah di jurusan teknik Institut Nasional Ilmu Terapan Lyon, pemimpin Medtech tersebut menunjukkan minat yang besar pada robot medis. Dalam peringkat yang ditetapkan majalah Kanada, ia berada tepat di belakang Steve Jobs (Apple) dan Mark Zuckerberg (Facebook). Suatu posisi yang memberikan pengakuan antara lain bagi dimensi revolusioner visi Bertin Nahun dan proyek-proyeknya.

Rosa menarik perhatian para ahli bedah syaraf

‘Rosa’lah yang paling besar andilnya bagi kesuksesan perusahaan Medtech. Setelah ‘Brigit’ yang dipersembahkan untuk bedah ortopedi, robot Rosa membantu operasi dengan ketepatan yang belum pernah tercapai sebelumnya. Padat dengan teknologi tinggi, Rosa dirancang demi menjamin keamanan manipulasi peralatan di bidang bedah syaraf.

“Dengan bantuan Rosa, para ahli bedah syaraf mendapatkan citra tiga dimensi otak pasien yang sempurna, bagian otak yang akan dibedah dan jalur mana yang akan dilalui,” kata pemimpin Medtech ini. Tim-tim perusahaan bekerjasama langsung dengan para ahli di bidang kedokteran guna menyempurnakan teknologi canggih tersebut.

Sekitar lima belas rumah sakit Perancis, Eropa dan Amerika sudah menggunakan robot tersebut. Dan tim dari Medtech berupaya keras menciptakan aplikasi-aplikasi baru untuk Rosa. Tim ini berambisi mengoperasikan 30 robot dalam dua tahun ke depan, dan meraup omset sebesar 4 juta euro. Sejak bulan Oktober tahun 2011, tim-tim dari perusahaan ini menggarap proyek robot baru untuk membantu proses bedah tulang belakang.

PNG Grup Medtech baru saja membuka dirinya untuk menerima dana investasi dari Newfund, dengan sasaran ganda, yakni mendukung peningkatan penjualan Medtech dan mempercepat pelebaran jaringan distribusi, terutama di pasar Amerika Utara.

2600 Nao di 45 Negara

Robot lain asal Perancis sudah beredar pula di pasaran robotika. Nao, robot buatan perusahaan Aldebaran Robotics baru saja meraih penghargaan sebagai robot terbaik tahun ini, untuk bidang pendidikan, dari Universitas Pittsburg. Keunggulannya terletak pada kemampuan mengenali wajah, membaca koran atau merekam respon. Grup perusahaan tersebut bermaksud menjadikan Nao pendamping ideal bagi para penderita Alzheimer atau anak-anak yang sedang dirawat di rumah sakit.

Perusahaan Perancis tersebut telah memasarkan Nao di lebih dari 45 negara. Sejak tahun 2008, total robot yang diproduksi mencapai 2600. “Belum pernah ada yang menyamai angka ini”, ujar Petra Koudelkova Delimoges, penanggungjawab kemitraan dan hubungan kelembagaan. 85% penjualan berasal dari ekspor. Nao sudah berkeliling ke berbagai universitas di luar negeri. Aldebaran Robotics menjualnya kepada lebih dari 200 laboratorium Harvard dan Stanford di Amerika Serikat, serta ke sejumlah universitas di Cina dan Perancis. Robot kecil berbentuk manusia ini bahkan menarik perhatian Jepang yang keunggulannya di bidang robotika tak perlu diragukan lagi.

Grup perusahaan Aldebaran Robotics juga berharap banyak dari ‘Roméo’, sebuah robot pendamping bagi manula dan anak-anak. Dengan anggaran pengembangan sebesar 10 juta euro, robot ini akan mampu misalnya membuka pintu atau menemukan kunci. Setelah tiga tahun masa penelitian dan pengembangan, purwa rupa pertama baru saja diperkenalkan.

Di Perancis terdapat sekitar seratus perusahaan yang ahli dalam merancang dan membuat robot pembantu. Guna mendukung kemajuannya, pemerintah bersama kaum profesional dalam sektor robotika mempersiapkan terutama dana khusus dan pengembangan sinergi antara para pelaku riset dan dunia industri.

Barbara Leblanc

Diterbitkan pada 14/12/2012

Kembali ke atas