Sekolah Hak Asasi Manusia untuk Mahasiswa Dibuka di Jakarta

Duta Besar Kanada untuk Indonesia, Y.M. Mackenzie Clugston, Kuasa Usaha a.i. Kedutaan Swiss Ms. Sonja Hürlimann, dan Konselor Kerjasama Kedutaan Besar Prancis, Mr. Stéphane Foin, hari ini secara resmi membuka di Jakarta Sekolah Hak Asasi Manusia untuk Mahasiswa (SeHAMA) yang ketiga.

Diselenggarakan oleh Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) dengan dukungan dari Kedutaan Besar Kanada, Swiss dan Prancis, SeHAMA akan memberikan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan kepada sejumlah mahasiswa terpilih dari seluruh Indonesia untuk dapat memonitor masalah-masalah hak asasi manusia sekaligus menerapkan prinsip-prinsip hak asasi manusia di daerah asal mereka.

JPEG
“Kedutaan Besar Kanada merasa senang dapat bermitra dengan KontraS untuk tahun yang ketiga di dalam menyelenggarakan program pelatihan hak asasi manusia untuk mahasiswa, dan kami gembira bahwa tahun ini kami dapat bergotong royong dengan Kedutaan Besar Swiss dan Prancis di dalam mendukung inisiatif yang penting ini,” kata Duta Besar Clugston.

“Swiss percaya bahwa SeHAMA akan memberikan sumbangan yang besar kepada peningkatan kesadaran masyarakat Indonesia terhadap hak asasi manusia dan penerapannya lebih jauh,” kata Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Y.M. Heinz Walker-Nederkoorn.

“Kedutaan Besar Prancis yakin bahwa untuk membuat hak asasi manusia sebagai suatu kenyataan, yang paling dibutuhkan adalah mendorong kerjasama antara semua pemain yang terlibat dan memastikan bahwa terjalin kemitraan di antara mereka. Dalam hal ini, kami beranggapan bahwa masyarakat sipil adalah pemain penting yang perlu didorong dan didukung. Dengan tujuan untuk memberdayakan generasi baru agar mereka dapat membuat perbedaan di dalam masalah-masalah utama hak asasi manusia, proyek SeHAMA adalah contoh yang sangat bagus dari kedinamisan dan kreativitas masyarakat sipil. Kami juga percaya bahwa para pemain dengan nilai-nilai dan komitmen yang sama sebaiknya juga saling bekerja sama; inilah mengapa kami sangat senang dan merasa mendapat kehormatan untuk bekerja sama dengan Kanada dan Swiss dalam mendukung proyek ini,” kata Konselor Foin.

Dimulai pada tahun 2009, SeHAMA menawarkan program pelatihan hak asasi manusia selama 3 minggu untuk 30 mahasiswa terpilih dari berbagai universitas di seluruh Indonesia. Termasuk di dalam program tersebut adalah kegiatan belajar dan diskusi, investigasi dan analisa di lapangan, kunjungan ke berbagai institusi, dan dialog dengan para korban hak asasi manusia dan warga masyarakat minoritas. Para peserta juga akan berkesempatan tinggal bersama dan berinteraksi secara dekat dengan masyarakat penduduk asli untuk belajar lebih lanjut tentang hak-hak penduduk asli.

KontraS adalah salah satu LSM hak asasi manusia yang paling menonjol di Indonesia. Didirikan saat rezim Soeharto berkuasa dengan tujuan melakukan kegiatan advokasi untuk penyelesaian kasus-kasus pelanggaran berat hak asasi manusia seperti penghilangan paksa, KontraS kini tengah melakukan kampanye Human Loves Human – dengan semboyannya yaitu menolak kekerasan, memelihara kebebasan dan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang hak asasi manusia di kalangan generasi muda di Indonesia.

Diterbitkan pada 06/07/2011

Kembali ke atas