[Solusi Iklim 1] Perlindungan Keanekaragaman Hayati juga dilakukan melalui pengawasan [fr]


Proyek INDESO bertujuan untuk membangun kondisi yang mendukung kegiatan penangkapan ikan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab di Indonesia, melalui pengelolaan lingkungan pesisir yang baik dan upaya pemberantasan penangkapan ikan ilegal yang lebih baik.

1. Indonesia merupakan salah satu wilayah yang menyimpan keanekaragaman hayati maritim terbesar di dunia

JPEG Kepulauan Indonesia terletak di jantung Segitiga Terumbu Karang dan memiliki salah satu wilayah yang menyimpan keanekaragaman hayati laut terkaya di dunia. Kepulauan yang terdiri atas 17 500 pulau ini terbentang sepanjang lebih dari 4000 km, dari Barat ke Timur, dan membutuhkan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan yang amat rumit dan sulit.

Sektor perikanan berkontribusi dalam mempertahankan lapangan kerja di pedesaan dan percepatan arus ekonomi lokal. Secara keseluruhan, 50 juta penduduk bergantung pada sektor penangkapan dan budidaya ikan serta pariwisata.

Selain penangkapan ikan ilegal yang merampok wilayah perairan Indonesia, sumber daya alam daerah juga terancam pemanasan global, polusi dan deforestasi wilayah pesisir. Sejak tahun 1970-an, sekitar 40% terumbu karang dan hutan bakau rusak. Perubahan iklim dapat menyebabkan bencana ekologi yang akibatnya yang luar biasa akan memukul ekonomi setempat dengan segera.

2. Memahami karakteristik dan komposisi laut agar dapat mengantisipasi dan meramalkan fenomena alam

JPEG Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Perikanan dan Kelautan yang berada di bawah Kementerian Perikanan dan Kelautan telah memilih perusahaan Prancis CMS untuk mendirikan pusat oseanografi INDESO (Infrastructure Development of SpaceOceanography) untuk pengelolaan berkelanjutan dan pengembangan sumber daya kelautan. CSL yang merupakan anak perusahaan CNES memperoleh dana sebesar 30 juta USD dari Badan Prancis untuk Pembangunan (AFD) untuk keahlian mereka.

Berlokasi di Bali, INDESO terdiri atas sebuah pusat penelitian dan pengawasan, stasiun penerima gambar satelit beresolusi tinggi dan pusat pendidikan bagi para peneliti.

Dari data pemantauan dari satelit observasi, pusat penelitian akan mengembangkan aplikasi khusus hilir untuk :

  • Upaya memberantas penangkapan ikan ilegal
  • Pengelolaan persediaan ikan (terutama tuna)
  • Pengelolaan terpadu wilayah pesisir dan laut yang dilindungi
  • Pengawasan kondisi terumbu karang dan perlindungannya
  • Dukungan para produsen udang dan perikanan skala industri (dengan merekomendasikan tempat-tempat produksi)
  • Dukungan bagi produksi rumput laut (untuk sektor agroindustri dan kosmetik)
  • Perlindungan lingkungan hidup (deteksi tumpahan minyak)

    GIF

Data dalam angka :

  • 20% penduduk bergantung pada sektor perikanan
  • 30% karang dunia berada di perairan di sekitar Indonesia
  • 40% terumbu karang dan hutan bakau di Indonesia rusak sejak tahun tujuh puluhan
  • Diperlukan rata-rata 25 tahun untuk menumbuhkan kembali terumbu karang yang rusak akibat kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak.

Diterbitkan pada 15/10/2015

Kembali ke atas