[Solusi iklim 2] Produksi karet alam ramah lingkungan di Indonesia [fr]

Prakarsa Michelin, Barito dan WWF untuk meningkatkan mutu pengelolaan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan di sektor budidaya tanaman karet di Indonesia akan membantu mempromosikan praktik pertanian terbaik, memberantas penggundulan hutan, dan mengatasi dampak buruk kegiatan tersebut pada flora dan fauna.


1. Budidaya tanaman karet antara eksploitasi lahan yang berlebihan dan deforestasi

© WWF-Indonesia _ Sunarto - JPEG Indonesia salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati terkaya di dunia. Namun sayangnya negeri kepulauan ini juga merupakan pemegang rekor tertinggi di dunia dalam hal penggundulan hutan. Hutan primer merupakan salah satu tempat perlindungan terakhir bagi sejumlah spesies tumbuhan dan binatang seperti orang utan, gajah dan harimau Sumatera.

Selama sepuluh tahun terakhir, deforestasi mengalami percepatan yang amat pesat dan secara drastis merusak keanekaragaman hayati. Pada tahun 2013 Indonesia memenuhi lebih dari seperempat kebutuhan karet alam dunia dan termasuk negara dengan tingkat hasil panen terendah di dunia (880-1000 kg per hektar dibandingkan dengan panen di Thailand atau Malaysia yang mencapai 1500 kg/ha) (Sumber wwf.fr)

2. Kolaborasi untuk perkembangan praktik budaya

Sejak lebih dari seratus tahun, Michelin, produsen ban terkemuka, berkomitmen untuk mengelola tanaman karet secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Pada bulan April 2015, perusahaan ini bergabung dengan grup perusahaan Indonesia Barito untuk menjalankan program pemulihan hutan dan perkebunan karet di Sumatera dan Kalimantan, guna memproduksi karet yang ramah lingkungan di lahan seluas 45 ribu hektar. Mengingat tantangan lingkungan dan sosial, lembaga swadaya masyarakat, WWF, mendampingi proyek tersebut.

Keikutsertaan dalam proyek ini akan memenuhi beberapa sasaran, yakni menerapkan kebijakan pengolahan lahan secara bertanggung jawab, mempromosikan praktik budi daya yang lebih baik, mempromosikan praktik-praktik sosial yang lebih baik, dan terakhir mendukung pembangunan masyarakat dan penduduk setempat.

3. Kemitraan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup

© WWF _ Bukit Tigah Puluh - JPEG Selain kemitraan antara Michelin/Barito dan WWF di wilayah-wilayah perkebunan yang ramah lingkungan, koordinasi local antara Michelin dan WWF juga bertujuan untuk melindungi Cagar Alam Bukit Tiga Puluh dan Limau di Sumatera, yang saat ini kelestariaannya terancam.

GIF

Data dalam angka :

  • 70% produksi karet alam dunia digunakan oleh industri ban
  • 3,2 juta ton karet diproduksi Indonesia setiap tahunnya
  • Produsen karet alam kedua terbesar di dunia, setelah Thailand
  • Antara 15% - 30% ban mengandung karet alam
  • 90% produksi lateks dunia berasal dari perkebunan-perkebunan kecil dengan luasan lahan kurang dari 5 hektar
  • Pohon karet rata-rata membutuhkan waktu 6 tahun untuk mencapai usia dewasa dan memproduksi getah selama 25 – 30 tahun. Sepanjang masa hidupnya tanaman ini menghasilkan sekitar 100 kg karet.

Diterbitkan pada 20/10/2015

Kembali ke atas