Wawancara dengan Ibu Duta Besar Corinne Breuzé untuk Majalah National Geographic Indonesia

EMPAT MATA | NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER APRIL 2016

Kemesraan Indonesia dan Prancis

Jalinan kebudayaan sejak zaman Daendels hingga titisan semangat Damais.

PNG
Sebelum menjadi duta besar Prancis untuk Indonesia, Corinne Breuzé merupakan duta besar di Yordania selama 2009 hingga 2012. Dia merupakan pembaca lama National Geographic dan menggandrungi National Geographic Traveler. Baginya, pengalaman berwisata bisa membuat seseorang rendah hati. Saran Corinne bagi pelancong yang hendak berkelana ke negerinya, "Prancis tidak hanya Paris."

Kapan hubungan budaya antara orang Prancis dan orang Indonesia bermula?

Kami perkirakan ketertarikan Prancis pada Indonesia, di bidang ilmiah, dimulai sejak zaman Louis-Charles Damais (1911-1966). Ia dianggap sebagai ahli besar Prancis tentang Indonesia yang pertama. Ia juga merupakan alumni INALCO/ Institut Bahasa dan Peradaban Timur di Paris. Dari Institut tersebut dia memperoleh enam gelar (Persia, Oriental Arab, sastra Arab, Turki, Melayu dan Cina). Dia menetap di Indonesia (Batavia) pada tahun 1937, membangun keluarga dengan menikahi seorang wanita Indonesia, dan meninggal di sana pada tahun 1966. Dialah yang membuka departemen penelitian pertama EFEO/Lembaga Prancis yang meneliti kebudayaan Asia di Jakarta pada tahun 1952. Beliau merupakan ahli sejarah, prasasti, filolog, pengarang yang tema tulisannya mencakup teater, lukisan, puisi maupun astronomi. Beliau orang yang memiliki« rasa ingin tahu sangat besar tentang semua hal». Beberapa ahli Prancis terkemuka kemudian melanjutkan karya Louis-Charles Damais, seperti Denys Lombard (1938-1998), penulis "Carrefour Jawa" atau arkeolog Dumarçay Jacques.

Di bidang sejarah, sebagaimana yang telah kita ketahui, Herman Willem Daendels bersekutu dengan Louis Napoleon Bonaparte sebelum ia menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1808-1811 dan telah mengibarkan bendera Prancis di Batavia untuk masa yang singkat. Daendels meninggalkan kenangan buruk bagi rakyat Indonesia, namun dia merupakan salah seorang yang meraih prestasi paling luar biasa di bidang infrastruktur dari masa kolonial Belanda, dengan membangun jalan utama melintasi pulau Jawa, dari Barat hingga ke Timur.

Bagaimana keadaan sektor pariwisata Prancis usai teror akhir tahun lalu?

Bukan hanya destinasi yang ada di negara kami yang terkena dampak peristiwa mengerikan tersebut tetapi seluruh Eropa. Sejak tragedi tersebut, pasar kami di Asia mengalami kemerosotan, terutama Jepang yang menangguhkan 100% jumlah penerbangannya hingga musim semi. Namun beberapa bisa pulih dengan sangat cepat (misalnya Cina, pasar terbesar Prancis di Asia).

Di Indonesia kami melihat jumlah visa yang dikeluarkan Prancis mengalami penurunan, namun tidak berlangsung lama, menyusul serangan teroris bulan November. Tetapi sejak awal tahun 2016 jumlahnya meningkat pesat. Di bulan Januari, misalnya, kami mencatat ada kenaikan jumlah visa sebesar 50% dibandingkan dengan tahun lalu. Sayangnya terorisme merupakan ancaman di seluruh dunia. Tak satu pun benua yang luput dari serangan, termasuk Asia Tenggara, beberapa bulan lalu.

Berkait United Nations Conference on Climate Change (COP21) yang digelar di Paris tahun lalu, dapatkah pariwisata dan pelestarian lingkungan berjalan bersama?

Pelestarian lingkungan mungkin tantangan terbesar bagi umat manusia setelah perdamaian. Di Prancis, kami percaya bahwa pariwisata berkelanjutan bermanfaat bukan hanya bagi lingkungan tetapi juga bagi rakyat Prancis dan ekonomi. Di tahun 1960, Prancis membangun Taman Nasional (seluruhnya ada 10 hingga saat ini) dan pada tahun 1967 taman-taman daerah (51). Perbedaan antara keduanya adalah bahwa taman nasional lebih unik. Taman taman tersebut merupakan habitat berbagai jenis tumbuhan dan hewan endemik. Sebagian besar area taman nasional tertutup untuk pembangunan dan manusia. Kami juga menetapkan kuota wisatawan untuk mengontrol jumlah wisatawan di daerah yang padat pengunjung atau kami buat tiruan tempat tersebut (misalnya gua Lascaux dan Gua Chauvet)

Pembangunan kota pintar/smart city juga merupakan moto yang digaungkan pemerintah Prancis? Prancis memiliki keahlian yang diakui di bidang ini (Montpelier, Marseille, dan kota-kota lainnya). Konsep kota pintar mencakup urbanisasi ramah lingkungan, penggunaan energi terbarukan, penggunaan sumber alam secara adil, penghormatan terhadap warisan, dll. Pariwisata merasakan dampak langsung dari konsep ini, dan kami dengan senang hati mempromosikannya. Di wilayah perkotaan yang luas, kami mendorong para pelancong asing untuk mengunjungi situs-situs budaya yang dilestarikan (misalnya Istana Versaille), mengonsumsi gastronomi Prancis yang sehat, menggunakan angkutan yang memakai energi hijau, dengan mempromosikan wisata keliling kota naik Segway, sepeda sewaan, trem dan kereta bawah tanah.

Di atas semua itu, yang terpenting, para wisatawan harus dididik (dimulai dari sekolah) untuk berperilaku ramah lingkungan. Namun ini merupakan upaya global dan sayangnya akan memakan waktu puluhan tahun. Sebaliknya, kurangnya perilaku ramah lingkungan dapat berdampak mengurangi jumlah kunjungan wisatawan di beberapa tempat.

Di masa lalu beberapa kali Atout France membantu perusahaan swasta dan lembaga pemerintah di dunia untuk mengembangkan tawaran local mereka yang berkelanjutan. Saya yakin Indonesia memiliki potensi yang sangat besar di bidang ekowisata.

Apakah Anda memiliki ide yang dapat dikembangkan untuk kerja sama bidang seni, budaya, dan wisata antara Prancis dan Indonesia?

Kerja sama kami di bidang-bidang ini dititikberatkan pada tiga poros : menyesuaikan penawaran Prancis dengan permintaan Indonesia, bekerja sama dengan lembaga-lembaga pemerintah maupun swasta, mengembangkan pertukaran di bidang industri kreatif. Sejak lama Prancis menyadari bahwa tidak akan ada pembangunan ekonomi tanpa pembangunan budaya.

Oleh karena itu Prancis mempunyai banyak tawaran di bidang kebudayaan di segala bidang seni , mulai dari warisan budaya yang paling tua hingga karya paling kontemporer. Indonesia merupakan negara yang memiliki warisan universal dan tradisi budaya yang menonjol, namun juga generasi muda yang haus untuk membuka diri terhadap pertukaran budaya internasional. Setiap hari, jaringan kerja sama kami setiap mengerjakan proyek-proyek kerja sama dengan para pemain lokal. Di tahun 2015 kami mendukung lebih dari 100 proyek Indonesia-Prancis di bidang seni dan budaya. Begitu juga di bidang wisata, Prancis memiliki know-how dan keahlian yang pasti, Unsur-unsur yang kami manfaatkan dalam berbagai kegiatan kami di Indonesia, di sejumlah lembaga pendidikan khusus perhotelan, restoran dan pariwisata.

Kehadiran Atout France, Badan Promosi Pariwisata prancis baru-baru ini diharapkan juga akan mendukung penawaran wisata Prancis hingga semakin dikenal dan meningkatkan perjalanan kalangan profesional Indonesia, melalui kebijakan undangan ke Prancis, pada kesempatan penyelenggaraan kegiatan-kegiatan promosi industri pariwisata.

Apa saran Anda bagi para pelancong yang hendak ke Prancis?

Prancis tidak hanya Paris. Kami sangat beruntung memiliki banyak pemandangan alam yang indah, budaya dan arsitektur yang sangat beragam. Untuk kota-kota, Anda dapat merasakam keanekaragaman tersebut dengan mengunjungi Toulouse, kota berwarna merah muda; Lyon, kota kuliner Prancis, Marseille yang terletak di pesisir Mediterania dan terkenal dengan pelabuhan dan kota tuanya; Nancy, kota di Timur Prancis yang memiliki alun-alun Stanislas yang masyhur di seluruh dunia; atau ke kota Lille di Utara. Setiap kota memiliki arsitektur yang khas, amat berbeda dengan Paris. Prancis juga memiliki alam yang indah. Negara kami terkenal dengan wisata pegunungan, terutama di pegunungan Alpen, pegunungan Pyrenees atau Cévennes (di pinggiran Massif Central). Selain hiking, jalan-jalan di pegunungan bisa juga dilakukan dengan naik sepeda. Anda bisa bersepeda melintasi Prancis Tenggara mengikuti sungai Rhône, atau Prancis Selatan menyusuri aliran sungai Loire.

Kami juga memiliki bangunan-bangunan bersejarah yang amat indah di luar Paris. Sejarah Prancis amat kaya dan meninggalkan jejak di seluruh wilayahnya. Terdapat situs-situs dari zaman sejarah kuno, seperti amfiteater romawi di Arles (Tenggara); dari abad pertengahan benteng Carcassone (termasuk situs warisan budaya UNESCO, Barat Daya); banyak kota memiliki katedral dari zaman yang sama. Zaman Renaissance terutama terlihat di bagian Selatan. Saya teringat di antaranya kastil-kastil yang didirikan di sekitar sungai Loire.

Di Prancis, kita pun dapat melakukan wisata religi. 10 ribu bangunan masuk dalam kategori bangunan bersejarah yang dilindungi UNESCO. Kami juga memiliki kota Lourdes, tempat berziarah yang dianggap suci.

Apa pengalaman melancong Anda yang paling berkesan?

Sebelum menjadi duta besar untuk Indonesia, saya duta besar di Yordania dari tahun 2009 hingga 2012. Saat saya bertugas di Amman, saya punya pengalaman wisata yang unik. Saya pergi ke gurun pasir Wadi Rum, untuk perjalanan dua hari semalam. Sungguh tak terlupakan. Mulanya saya naik jip, kemudian dilanjutkan dengan naik unta, bertemu orang Badui di daerah yang ajaib ini. Keluasan, ketenangan gurun, membuat saya merenung. Saya ingat malam yang saya lewati di tengah padang pasir, kesunyian yang mutlak, cahaya yang unik, langit bertabur bintang. Wadi Rum amat indah. Cukup dengan mendatangi lengkungan alam Um Fruth dan Burdah agar Anda yakin. Menurut sejarah tempat itu juga amat kaya. Lawrence of Arabia pernah hidup di Wadi Rum, pria yang menjadi pelopor pemberontakan Arab. Kisahnya memiliki getaran yang amat aktual. Ini merupakan pengalaman wisata yang menjadikan seseorang rendah hati.

Di sanalah peradaban Nabath lahir. Situs menakjubkan Petra menjelma dari sini.

Sejak kapan Anda mengenal National Geographic?

Saya mengenal National Geographic sejak bertahun-tahun. Di Prancis, seperti halnya di Indonesia, National Geographic terbit setiap bulan, dan saya senang membacanya secara berkala. Artikel-artikelnya bagus, foto-fotonya indah, membawa kita berpetualang. Selain itu saya penggemar edisi khusus ’traveler’ National Geographic.

Saat tiba di Indonesia, saya amat senang mengetahui bahwa majalah ini terbit dalam bahasa Indonesia. Saya amat tersentuh terutama oleh edisi bulan November 2015. Untuk pertama kalinya National Geographic menerbitkan edisi tanpa foto pada sampulnya yang mengandung pesan "tidak ada foto-foto indah apabila menyangkut perubahan iklim". Sebagai duta besar Prancis, negara penyelenggara COP 21 saya tertantang oleh halaman pertama tersebut. Itu menggambarkan kondisi bumi saat ini dan kondisi darurat yang tengah kita hadapi dengan sempurna. Tak perlu lagi menggambarkan perubahan iklim dengan foto palsu. Kita mengalami perubahan iklim dalam kehidupan sehari-hari, terutama di Indonesia. Kedutaan menyimpan halaman pertama edisi tersebut dalam format besar. Pesannya sederhana, namun mengena. Tentang isu lain, saya teringat edisi spesial bulan April lalu tentang letusan gunung Tambora, saya tidak tahu banyak dan baru mengetahuinya berkat National Geographic.

Apakah Anda memiliki kutipan yang inspiratif?

"Kemerdekaan dimulai ketika ketidaktahuan berakhir" (Victor Hugo, seniman, pengarang, penyair, penulis novel, 1802-1885)

Mahandis Yoanata Thamrin

- > http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/03/kemesraan-indonesia-dan-prancis#

Diterbitkan pada 04/04/2016

Kembali ke atas